PROFIL SYEKH ABDUR RAUF BIN ALI AL FANSURI AS-SINKILI (1615 M)
Menurut catatan sejarah dalam buku Mengenal Ulama Nusantara yang diterbitkan oleh Tim Baitul Mukminin, Abdur Ra'uf bin Ali al-Fansuri as-Sinkili, yang juga dikenal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala, lahir sekitar tahun 1615 M di Singkel, Aceh. Beliau merupakan tokoh ulama besar yang memiliki pengaruh luas dalam penyebaran Islam di Nusantara. Perjalanan intelektualnya dimulai dari bimbingan sang ayah, lalu berlanjut ke berbagai ulama di wilayah Fansur. Haus akan ilmu, beliau merantau hingga ke Timur Tengah, menyinggahi Doha, Hadramaut, Jeddah, serta menetap lama untuk mendalami agama di Makkah dan Madinah.
Kepemimpinan Tarekat Syattariyah
Selama di tanah suci, beliau berguru kepada ulama ternama seperti Syaikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syaikh Ibrahim al-Kurani. Beliau dipercaya menjadi khalifah (perwakilan) Tarekat Syattariyah sebelum akhirnya kembali ke Aceh pada tahun 1662 M. Selama tiga dekade, beliau konsisten menyebarkan ajaran tarekat ini, hingga murid-muridnya datang dari berbagai penjuru Nusantara. Hal inilah yang membuat nama beliau dan Tarekat Syattariyah sangat populer, termasuk di pulau Jawa.
Peran sebagai Mufti Kesultanan Aceh
Kredibilitas beliau diakui oleh pihak kerajaan, di mana pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin Tajul Alam (1644-1675), Syaikh Abdur Ra'uf diangkat menjadi Mufti sekaligus Qadhi (hakim agung). Beliau menggantikan posisi Syaikh Saif ar-Rijal yang wafat. Di bawah bimbingannya, Aceh menjadi pusat studi Islam yang sangat penting di dunia Melayu, terutama bagi para jemaah haji yang sedang singgah. Karya Tulis yang Monumental
Beliau sangat produktif dalam menulis, dengan fokus utama pada bidang tasawuf, syariat, dan tafsir. Beberapa poin penting dalam karyanya antara lain:Bidang Tasawuf: Beliau menekankan pentingnya keselarasan antara syariat dan sufisme. Menurutnya, seorang sufi harus patuh sepenuhnya pada hukum Islam agar mencapai pengalaman hakikat yang sejati. Salah satu ajarannya membahas tentang penciptaan alam semesta yang berasal dari "Nur Muhammad". Bidang Tafsir: Beliau menulis Tarjumân al-Mustafîd, yang merupakan karya tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara yang menggunakan bahasa Melayu (aksara Pegon). Ada diskusi menarik di kalangan ahli mengenai sumber tafsir ini; sebagian menyebutnya terjemahan dari Tafsir Jalalayn, namun pendapat lain (seperti Snouck Hurgronje dan Peter Riddle) lebih condong bahwa kitab ini mengacu pada Tafsir al-Baydhawi.Karya Lainnya: Beberapa kitab penting beliau antara lain Mir'ât ath-Thullâb (membahas hukum Islam/syariat secara lengkap) dan Tanbîh al-Mâsyi (membahas tentang ketauhidan dan pentingnya menyucikan Allah SWT).
Kitab Tarjumân al-Mustafîd memiliki sejarah publikasi yang sangat luas. Kitab ini pertama kali dicetak secara resmi di Istanbul, Turki, pada tahun 1884. Kepopulerannya terbukti dengan diterbitkannya kitab ini di berbagai pusat intelektual dunia, mulai dari Singapura, Penang, Bombay (India), hingga Afrika Selatan dan Timur Tengah seperti Kairo dan Makkah. Salah satu naskah manuskrip berharga dari kitab ini, yang menjadi koleksi Pesantren Al-Yasir, merupakan terbitan dari percetakan Musthafa al-Baby al-Halaby di Mesir yang dirilis pada bulan Ramadhan tahun 1343 H.
Sebelum mencapai proses cetak modern, teks kitab ini telah diteliti dan disempurnakan oleh tiga ulama besar asal Pattani dan Kelantan, yaitu Ahmad al-Fathani, Idris al-Kalantani, dan Dawud al-Fathani. Selain karya ilmiah, Syaikh Abdur Ra'uf juga mengekspresikan kedalaman spiritualnya melalui syair-syair sufistik yang umumnya bertema tentang relasi antara Tuhan dan manusia.
Jaringan Murid dan Warisan Dakwah
Syaikh Abdur Ra'uf memiliki jaringan murid yang sangat luas dan menjadi tokoh kunci penyebaran Islam di berbagai daerah:
Jawa: Beliau mengamanahkan penyebaran Tarekat Syattariyah kepada Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, yang kemudian menjadi mursyid utama di wilayah Jawa.
Minangkabau: Syaikh Burhanuddin Ulakan merupakan murid beliau yang pertama kali membawa dan menyebarkan Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Setelah diangkat sebagai khalifah oleh gurunya, ia lebih dikenal dengan gelar "Tuanku Ulakan".
Akhir Hayat (Wafat)
Syaikh Abdur Ra'uf as-Sinkili berpulang ke rahmatullah pada tahun 1693 M. Mengenai lokasi makamnya, terdapat dua pendapat di masyarakat; ada yang meyakini beliau dimakamkan di Desa Deah Raya, Muara Krueng, Aceh, namun ada pula pendapat yang menyebutkan makam beliau berada di Singkil. Terlepas dari perbedaan tersebut, kedua lokasi tersebut hingga kini sangat dihormati oleh masyarakat Aceh dan terus menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang.
Catatan Mengenai Gelar "Syiah":
Penting untuk dipahami bahwa gelar "Syiah" pada nama Teungku Syiah Kuala tidak merujuk pada aliran keagamaan tertentu. Kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Arab, yakni Syaikh. Pada masa Kesultanan Aceh, masyarakat setempat sering menyebut beliau sebagai Syaikh Abdur Ra'uf dengan panggilan "Syiah Kuala", yang secara harfiah berarti "Syaikh di (Muara) Kuala".
Kitab Tarjumân al-Mustafîd memiliki sejarah publikasi yang sangat luas. Kitab ini pertama kali dicetak secara resmi di Istanbul, Turki, pada tahun 1884. Kepopulerannya terbukti dengan diterbitkannya kitab ini di berbagai pusat intelektual dunia, mulai dari Singapura, Penang, Bombay (India), hingga Afrika Selatan dan Timur Tengah seperti Kairo dan Makkah. Salah satu naskah manuskrip berharga dari kitab ini, yang menjadi koleksi Pesantren Al-Yasir, merupakan terbitan dari percetakan Musthafa al-Baby al-Halaby di Mesir yang dirilis pada bulan Ramadhan tahun 1343 H.
Sebelum mencapai proses cetak modern, teks kitab ini telah diteliti dan disempurnakan oleh tiga ulama besar asal Pattani dan Kelantan, yaitu Ahmad al-Fathani, Idris al-Kalantani, dan Dawud al-Fathani. Selain karya ilmiah, Syaikh Abdur Ra'uf juga mengekspresikan kedalaman spiritualnya melalui syair-syair sufistik yang umumnya bertema tentang relasi antara Tuhan dan manusia.
Jaringan Murid dan Warisan Dakwah Syaikh Abdur Ra'uf memiliki jaringan murid yang sangat luas dan menjadi tokoh kunci penyebaran Islam di berbagai daerah:
Jawa: Beliau mengamanahkan penyebaran Tarekat Syattariyah kepada Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, yang kemudian menjadi mursyid utama di wilayah Jawa.
Minangkabau: Syaikh Burhanuddin Ulakan merupakan murid beliau yang pertama kali membawa dan menyebarkan Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Setelah diangkat sebagai khalifah oleh gurunya, ia lebih dikenal dengan gelar "Tuanku Ulakan".
Akhir Hayat (Wafat) Syaikh Abdur Ra'uf as-Sinkili berpulang ke rahmatullah pada tahun 1693 M. Mengenai lokasi makamnya, terdapat dua pendapat di masyarakat; ada yang meyakini beliau dimakamkan di Desa Deah Raya, Muara Krueng, Aceh, namun ada pula pendapat yang menyebutkan makam beliau berada di Singkil. Terlepas dari perbedaan tersebut, kedua lokasi tersebut hingga kini sangat dihormati oleh masyarakat Aceh dan terus menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang.
Catatan Mengenai Gelar "Syiah": Penting untuk dipahami bahwa gelar "Syiah" pada nama Teungku Syiah Kuala tidak merujuk pada aliran keagamaan tertentu. Kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Arab, yakni Syaikh. Pada masa Kesultanan Aceh, masyarakat setempat sering menyebut beliau sebagai Syaikh Abdur Ra'uf dengan panggilan "Syiah Kuala", yang secara harfiah berarti "Syaikh di (Muara) Kuala".

Komentar
Posting Komentar