Biografi Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812 M)

Halo sahabat santri! Kali ini kita akan mengenal salah satu ulama besar yang sangat terkenal di Indonesia, khususnya di Kalimantan, yaitu Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710–1812 M).

Yuk, kita pelajari kisah beliau berdasarkan buku Mengenal Ulama Nusantara karya Tim Baitul Mukminin.

Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir pada tahun 1710 M di Lok Gabang, wilayah Banjar, Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama Abdullah, sedangkan ibunya bernama Siti Aminah. Beliau dikenal sebagai ulama besar dalam bidang fikih yang berpegang pada mazhab Syafi’i, serta mendapatkan gelar kehormatan “Anumerta Datu Kelampayan”.

Secara umum, Syaikh Arsyad merupakan tokoh penting dalam perkembangan Islam di Kalimantan Selatan. Proses penyebaran Islam di daerah ini sebenarnya sudah dimulai sejak masa pemerintahan Sultan Suriansyah pada abad ke-16. Namun, penyebaran tersebut mencapai puncaknya sekitar tahun 1761 M, ketika Syaikh Arsyad aktif berdakwah bersama murid-murid serta keturunannya.

Dari sisi keturunan, beliau termasuk golongan ‘Alawiyyin yang memiliki garis nasab hingga Sultan Abdurasyid Mindanao dan tersambung sampai kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sayyidina Husain.

Pendidikan

Sejak masa kecil, kecerdasan Syaikh Arsyad sudah terlihat jelas. Kemampuannya melampaui anak-anak seusianya, ditambah dengan akhlaknya yang lembut serta kecintaannya terhadap keindahan. Beliau juga memiliki bakat luar biasa dalam bidang seni, seperti melukis dan menulis, sehingga hasil karyanya banyak membuat orang kagum.

Suatu ketika, Sultan Tahmidullah melihat karya lukisan beliau saat berkunjung ke Kampung Lok Gabang. Saat itu usia Syaikh Arsyad baru sekitar 7 tahun. Karena terkesan dengan bakatnya, Sultan meminta izin kepada orang tuanya agar Syaikh Arsyad dapat belajar dan tinggal di lingkungan istana.

Selama lebih dari dua dekade, beliau mendapatkan pendidikan yang sangat baik di lingkungan kerajaan. Hal ini membentuknya menjadi sosok yang berilmu dan berwawasan luas. Pada usia sekitar 30 tahun, beliau melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Makkah dan Madinah.

Di sana, beliau belajar kepada banyak ulama besar, seperti Syaikh ‘Athaillah al-Mishri, Syaikh Muhammad al-Kurdi, dan Syaikh Muhammad as-Samman. Selain belajar, beliau juga menjalani proses spiritual (suluk) di bawah bimbingan para gurunya hingga akhirnya memperoleh ijazah keilmuan.

Tidak hanya itu, beliau juga menimba ilmu dari berbagai ulama lainnya dan menjalin persahabatan dengan pelajar dari Nusantara, seperti Abd al-Samad al-Palimbani. Mereka dikenal sebagai “Empat Serangkai dari Tanah Jawi”.

Setelah sekitar 35 tahun menuntut ilmu di Tanah Suci, beliau sempat berencana melanjutkan ke Mesir. Namun, atas saran gurunya, beliau bersama rekan-rekannya kembali ke Nusantara untuk berdakwah di daerah masing-masing.

Menjadi Mufti dan Kadi

Pada tahun 1772 M (1186 H), Syaikh Arsyad kembali ke Martapura, pusat Kesultanan Banjar. Kedatangannya disambut dengan penuh kehormatan oleh Sultan Tahmidullah.

Dalam pemerintahan, beliau kemudian diangkat sebagai Mufti sekaligus Kadi Kesultanan. Tugas utamanya adalah memberikan fatwa serta menjadi rujukan dalam berbagai persoalan agama yang dihadapi masyarakat. Selain itu, beliau juga menangani urusan hukum seperti warisan, pembagian harta, dan berbagai persoalan muamalah.

Peran beliau sangat penting dalam menciptakan sistem hukum Islam yang teratur di Kesultanan Banjar. Setelah beliau wafat, jabatan tersebut dilanjutkan oleh murid dan keturunannya, bahkan berkembang menjadi lembaga hukum yang terorganisir.

Syaikh Arsyad dikenal sebagai ulama karismatik yang sangat dihormati hingga sekarang, khususnya oleh masyarakat Banjar. Dari garis keturunannya lahir banyak ulama besar, salah satunya adalah Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul.

Ajaran

Dalam bidang pendidikan, Syaikh Arsyad menjadi pelopor pengajaran Islam di Kalimantan Selatan. Beliau mendirikan sebuah pesantren yang dikenal dengan nama Pesantren Dalam Pagar, yang kemudian berkembang menjadi pusat pembelajaran agama.

Metode pengajaran yang digunakan sangat beragam, di antaranya:

  • Bil-hal, yaitu memberi contoh langsung melalui akhlak dan perilaku sehari-hari
  • Bil-lisan, yaitu melalui pengajaran dan pengajian terbuka
  • Bil-kitabah, yaitu melalui karya tulis yang menjadi rujukan umat

Salah satu karya terbesarnya adalah kitab Sabilal Muhtadin, yang sangat terkenal hingga ke berbagai wilayah Asia Tenggara.

Karya Tulis

Selain kitab tersebut, Syaikh Arsyad juga menghasilkan banyak karya lain untuk kebutuhan pendidikan dan pemerintahan, seperti:

  • Kitab Ushuluddin
  • Tuhfatur Raghibin
  • Nuqtatul Ajlan
  • Kitabul Faraidh (ilmu waris)
  • Kitabun Nikah

Karya-karya ini tidak hanya digunakan di lingkungan Kesultanan Banjar, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Nusantara, bahkan dipelajari di luar negeri.

Tokoh nasional Abdurrahman Wahid pernah menyebut bahwa karya Syaikh Arsyad berperan besar dalam menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang mendalam, khususnya dalam penguasaan bahasa Arab dan cabang-cabangnya di pesantren.

Wafat

Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari wafat pada hari Selasa, 6 Syawal 1227 H atau tahun 1812 M dalam usia sekitar 105 tahun. Beliau dimakamkan di Kalampayan, sekitar 56 km dari kota Banjarmasin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL SYEKH ABDUR RAUF BIN ALI AL FANSURI AS-SINKILI (1615 M)